Rasanya Menyesakkan Dada...
![]() |
| Rasa hangat itu menyenangkan (Sumber gambar : Google) |
Terkadang rasa sesak itu bukan
karena dada yang secara riil terasa sesak, tapi bentuknya seperti apa itu hal
yang tak terlihat, tak dirasa.
Bukannya ingin merasa lebih,
apalagi sok merasa yang paling berpikir keras menanggapi sesuatu hal. Tapi
sebetulnya itulah yang menyesakkan dada.
Sedih rasanya..melihat orang
seakan tak berdaya, padahal kalau dia mau berusaha sebenarnya dia itu berdaya.
Bahkan lebih dari yang menuliskan ini. Saya sebenarnya tak habis pikir asal
muasal dari pemikiran hulu apakah memang muasalnya atau memang takdir seseorang
itu seperti itu. Sejujurnya, gemas sekali rasanya. Bahkan seandainya seseorang itu merasa
normal-normal hidupnya justru orang-orang lain jadi berpikir keras.
Jangan-jangan kita yang tidak normal. Lalu muncul banyak pertanyaan di kepala
banyak sekali. Berjuta. Padahal secara
sekilas saja sebetulnya hidup dan pemikiran dia yang tidak normal. Iya-tidak-iya-tidak-iya-tidak.
***
Memang benar lebih baik mana
menjadi orang realistis atau orang biasa-biasa saja? Dulu saya pikir orang-orang yang realistis, dimata saya mereka
itu over PD, sok tahu, sarkastik, minimalis (soalnya mereka hanya membawa diri
mereka saja tak membawa payung, minum, sunblok,
dan barang-barang penting lainnya), bicara satir dan getir rasanya menyedihkan
sekali dan langsung hati pilu setiap bicara dengan orang semacam ini. Tapi di
sisi lain sebenarnya agak sependapat juga juga sisi pemikiran itu. Bolehlah. Tapi hati kalut akan semakin kalut setiap
bertemu dengan orang semacam ini. Peace.
Tapi bicara dengan orang biasa
rasanya lebih melegakan..bagaikan menghirup mint
yang terus dan lama. Bahkan sampai menembus kulit rasa mint itu. Dingin dan segar. Terkadang dan biasanya orang biasa
benar-benar hanya mengandalkan perasaannya. Voila,
hasilnya dengan sarannya kacaulah semuanya. Padahal dalam situasi kacau itu
sebenarnya akal sehat dan logika lebih bisa memberikan solusi dibandingkan perasaan
yang menurutnya lebih tepat. Padahal tidak. Karena hidup itu adalah realita.
Realitanya sendiri-sendiri dan dalam situasi berbeda pun bisa seketika berubah.
Tak tertebak. Bahkan akal sehat pun
terkadang masih kalah juga oleh derasnya kehidupan itu. Bagaimana dengan
perasaan? Masih harus berjuang untuk bisa duduk. Bahkan ketika akal sehat sudah
mulai berlari lagi.
Rasanya sadis sekali, jika memang
harus mengatakan seseorang itu bodoh,
lemah, malas, pengecut, tergantung, padahal sebenarnya tak ada secuil pun
makhluk di dunia ini yang mau dihinggapi semua sebutan itu. Dan itu seakan-akan
akan terus melingkar-lingkar bahkan sampai si empunya terjerat dan tercekik ‘mungkin’
baru tahu untuk apa belajar berjuang dan memperjuangkan sekecil apapun
keinginannya sendiri walaupun dengan bagaimanapun rasa dan tenaga yang dia
punya. Dan seandainya si empunya yang
terjerat itu menyublim ke udara, semua
orang hanya berucap ‘itulah yang terbaik untukmu’. Bukan dalam kata-kata penghinaan tapi itulah bentuk empati yang
paling dalam.
