Jumat, 26 Oktober 2018

Rasanya Menyesakkan Dada


Rasanya Menyesakkan Dada...

Rasa hangat itu menyenangkan (Sumber gambar : Google)

Terkadang rasa sesak itu bukan karena dada yang secara riil terasa sesak, tapi bentuknya seperti apa itu hal yang tak terlihat, tak dirasa.

Bukannya ingin merasa lebih, apalagi sok merasa yang paling berpikir keras menanggapi sesuatu hal. Tapi sebetulnya itulah yang menyesakkan dada.

Sedih rasanya..melihat orang seakan tak berdaya, padahal kalau dia mau berusaha sebenarnya dia itu berdaya. Bahkan lebih dari yang menuliskan ini. Saya sebenarnya tak habis pikir asal muasal dari pemikiran hulu apakah memang muasalnya atau memang takdir seseorang itu seperti itu. Sejujurnya, gemas sekali rasanya.  Bahkan seandainya seseorang itu merasa normal-normal hidupnya justru orang-orang lain jadi berpikir keras. Jangan-jangan kita yang tidak normal. Lalu muncul banyak pertanyaan di kepala banyak sekali. Berjuta.  Padahal secara sekilas saja sebetulnya hidup dan pemikiran dia yang tidak normal. Iya-tidak-iya-tidak-iya-tidak.
***
Memang benar lebih baik mana menjadi orang realistis atau orang biasa-biasa saja? Dulu saya pikir  orang-orang yang realistis, dimata saya mereka itu over PD, sok tahu, sarkastik, minimalis (soalnya mereka hanya membawa diri mereka saja tak membawa payung, minum, sunblok, dan barang-barang penting lainnya), bicara satir dan getir rasanya menyedihkan sekali dan langsung hati pilu setiap bicara dengan orang semacam ini. Tapi di sisi lain sebenarnya agak sependapat juga juga sisi pemikiran itu. Bolehlah.  Tapi hati kalut akan semakin kalut setiap bertemu dengan orang semacam ini. Peace.

Tapi bicara dengan orang biasa rasanya lebih melegakan..bagaikan menghirup mint yang terus dan lama. Bahkan sampai menembus kulit rasa mint itu. Dingin dan segar. Terkadang dan biasanya orang biasa benar-benar hanya mengandalkan perasaannya. Voila, hasilnya dengan sarannya kacaulah semuanya. Padahal dalam situasi kacau itu sebenarnya akal sehat dan logika lebih bisa memberikan solusi dibandingkan perasaan yang menurutnya lebih tepat. Padahal tidak. Karena hidup itu adalah realita. Realitanya sendiri-sendiri dan dalam situasi berbeda pun bisa seketika berubah. Tak tertebak.  Bahkan akal sehat pun terkadang masih kalah juga oleh derasnya kehidupan itu. Bagaimana dengan perasaan? Masih harus berjuang untuk bisa duduk. Bahkan ketika akal sehat sudah mulai berlari lagi.

Rasanya sadis sekali, jika memang harus mengatakan seseorang itu  bodoh, lemah, malas, pengecut, tergantung, padahal sebenarnya tak ada secuil pun makhluk di dunia ini yang mau dihinggapi semua sebutan itu. Dan itu seakan-akan akan terus melingkar-lingkar bahkan sampai si empunya terjerat dan tercekik ‘mungkin’ baru tahu untuk apa belajar berjuang dan memperjuangkan sekecil apapun keinginannya sendiri walaupun dengan bagaimanapun rasa dan tenaga yang dia punya. Dan seandainya  si empunya yang terjerat itu menyublim ke udara,  semua orang hanya berucap ‘itulah yang terbaik untukmu’. Bukan dalam kata-kata  penghinaan tapi itulah bentuk empati yang paling dalam.