Kata Entahlah
Hai, dengan kalian semuanya! Di
November ini pertama kali yang ingin saya katakan adalah ‘trims’ yang selama
ini sudah mendengarkan cerita-cerita saya bahkan cerita tak penting sekalipun
yang saya posting. Bagaimana tidak, bahkan ketika keluarga bahkan teman pun
tutup telinga dan mata dengan semua letupan yang terkadang seperti pop corn. Trims ya.
Sahabat. Terkadang seseorang tiba
di suatu titik di mana dia begitu tahu apa yang dia inginkan bahkan yang dia
harapkan. Letupan. Euforia. Kebanggaan diri. Karena dia kini benar-benar-benar
tahu dan ada suatu keyakinan. Suatu perasaan dahsyat seperti seolah-olah dia
ada suatu tempat tertinggi dan dia bisa melihat sekeliling. Menakjubkan. Walaupun
moment itu terkadang bukan moment yang pertama. Tapi hari itulah
perasaan tertinggi itu. Bahkan ketika tak ada satu tepuk tanganpun untuk
pencapaian itu hal tersebut bukanlah masalah. Bahkan dia seolah punya tenaga
super untuk menghadapinya.
Tapi itulah kiranya manusia.
Entah dengan alasan apa dia dengan tanpa sadar pun mengatakan entah. Kata-kata
itu begitu menyakitkan dirinya sendiri. Walaupun jauuuuuh sekali di dalam
dirinya dia begitu yakin dengan keyakinan ‘titik tertinggi’ tersebut. Dan dia
yakini itu dan masih sekuat itu.Bahkan tenaga itulah yang membuatnya hidup
hingga saat ini. Galau? Bukan. Ini bukan pikiran seorang anak baru gede yang labil. Ha ha ha kelabilan itu
sudah lama berlalu. Jadi jangan pikirkan itu.
Jadi tentu saja ada juga
orang-orang yang hidupnya seperti ini. Saya pikir ini ada hubungannya dengan
pengalaman psikologis seseorang. Jejak langkah tentu meninggalkan bekas entah
jejak itu dimaui ataupun tidak. Bahkan menyenangkan ataupun tidak. Tapi yang pasti perlu kebijaksanaan si
empunya untuk memutuskan.
Saya pikir dia sudah berani juga.
Melangkah. Mencapai ‘titik tertinggi’ itu. Walaupun dia belum sempurna ketika
berdiri. Bahkan dia berani menghardik dan menghindari apapun itu yang
menghalangi keyakinannya tersebut. Tentu saja mungkin hanya malaikat yang akan
memberikan aplause untuknya.
Sahabat. Kenapa saat ini keadaan begitu
mencekam? Ya karena saat ini sudah malam. Selamat malam, selamat
siang, selamat pagi bagi siapapun Anda yang membacanya. Terima kasih.
