Minggu, 06 November 2016

Kata Entahlah



Kata Entahlah

Hai, dengan kalian semuanya! Di November ini pertama kali yang ingin saya katakan adalah ‘trims’ yang selama ini sudah mendengarkan cerita-cerita saya bahkan cerita tak penting sekalipun yang saya posting. Bagaimana tidak, bahkan ketika keluarga bahkan teman pun tutup telinga dan mata dengan semua letupan yang terkadang seperti pop corn. Trims ya.
 
Kaki dan jejak langkahnya (Sumber gambar: Google)
Sahabat. Terkadang seseorang tiba di suatu titik di mana dia begitu tahu apa yang dia inginkan bahkan yang dia harapkan. Letupan. Euforia. Kebanggaan diri. Karena dia kini benar-benar-benar tahu dan ada suatu keyakinan. Suatu perasaan dahsyat seperti seolah-olah dia ada suatu tempat tertinggi dan dia bisa melihat sekeliling. Menakjubkan. Walaupun moment itu terkadang bukan moment yang pertama. Tapi hari itulah perasaan tertinggi itu. Bahkan ketika tak ada satu tepuk tanganpun untuk pencapaian itu hal tersebut bukanlah masalah. Bahkan dia seolah punya tenaga super untuk menghadapinya.

Tapi itulah kiranya manusia. Entah dengan alasan apa dia dengan tanpa sadar pun mengatakan entah. Kata-kata itu begitu menyakitkan dirinya sendiri. Walaupun jauuuuuh sekali di dalam dirinya dia begitu yakin dengan keyakinan ‘titik tertinggi’ tersebut. Dan dia yakini itu dan masih sekuat itu.Bahkan tenaga itulah yang membuatnya hidup hingga saat ini. Galau? Bukan. Ini bukan pikiran seorang anak baru gede yang labil. Ha ha ha kelabilan itu sudah lama berlalu. Jadi jangan pikirkan itu.

Jadi tentu saja ada juga orang-orang yang hidupnya seperti ini. Saya pikir ini ada hubungannya dengan pengalaman psikologis seseorang. Jejak langkah tentu meninggalkan bekas entah jejak itu dimaui ataupun tidak. Bahkan menyenangkan ataupun tidak.  Tapi yang pasti perlu kebijaksanaan si empunya untuk memutuskan.

Saya pikir dia sudah berani juga. Melangkah. Mencapai ‘titik tertinggi’ itu. Walaupun dia belum sempurna ketika berdiri. Bahkan dia berani menghardik dan menghindari apapun itu yang menghalangi keyakinannya tersebut. Tentu saja mungkin hanya malaikat yang akan memberikan aplause untuknya.

Sahabat. Kenapa saat ini keadaan begitu mencekam? Ya karena saat ini sudah malam. Selamat malam, selamat siang, selamat pagi bagi siapapun Anda yang membacanya. Terima kasih.