Kamis, 29 November 2012

Keinginan,jalan,asa


Ada Keinginan Tapi Belum Ada Jalan



Aku hanya kadang kepikiran orang yang begitu sibuk, namun bisa melakukan banyak hal sekaligus tapi anehnya hasilnya bagus. Kenapa bisa begitu ya?
Kupikir fokus itu perlu. Tapi setelah aku timbang-timbang ternyata hal itu tergantung setiap kemampuan individu. Kondisi fisik antara satu orang dengan orang lainnya sangat berlainan. Ada orang yang kuat sekali  dalam kekuatan badan dan otaknya, ada orang yang lumayan kuat dan ada orang yang lemah secara fisik.
Situasi dan kondisipun akan menjadi penuntut keberhasilan dia soalnya ini berkaitan dengan tekanan. Kira-kira setahun yang lalu aku pernah mengalami tekanan yang luar biasa, tapi akhirnya aku berhasil menyelesaikannya. Mengalami tekanan dua bulan saja aku sudah merasakan capek yang luar biasa apalagi sampai berbulan-bulan. Aku dalam waktu itu sering pusing, mual bahkan aku jatuh sakit. Kubayangkan seandainya setahun, bertahun-tahun bahkan seumur hidup mengalami tekanan yang demikian berat.
Sementara itu aku lihat banyak orang bisa aman dan santai dalam waktu sehari semalam yang sama denganku bisa melakukan lebih banyak hal dan begitu efektif menyesuaikan waktu. Ingin juga seperti mereka. Bukannya ambisius, tapi aku juga inginkan banyak hal, tapi rupanya berbenturan dengan kemampuan fisik.
Dalam waktu dekat ini aku ingin menyelesaikan kerjaan kecilku yang sudah kumulai sejak duapuluh empat Oktober setahun lalu belum selesai juga. Semoga momentum menuliskannya di blog-ku ini bisa memberi titik terang untuk terselesaikannya pekerjaan kecilku tersebut.
Bagi yang membaca blog-ku kuhadiahi hadiah kecil untuk kalian :
“Mimpi itu kepingan keinginan, yang terkadang pupus di jalan, namun tak selamanya kan sirna, karena kalian sang pemilik mimpi kan selalu ada”
Itulah hebatnya manusia, karena manusia punya asa. Dan asa adalah pemberian Tuhan yang mahal. Pergunakan asa sebaik mungkin.

Mr.Ariel,MissPiggy


Mr Ariel Vs Miss Piggy


Di sebuah toko buku tampak Miss Piggy matanya jelalatan melihat buku-buku yang diobral begitu menggunung. Murah dan menarik, pikirnya. Aku ingin beli buku pengarang favoritku itu, ah empat judul buku saja.
Di mata Miss Piggy bazar berarti obral dan obral itu artinya murah. Memang tak salah pikiran seperti itu. Baju, sepatu, belt yang membuat keren badan bisa diobral apalagi buku sebagai suatu barang yang tak kelihatan karena akhirnya hanya bisa ngumpet di otak tidak terlihat.
“Hai,” sapa sebuah suara.
Suara itu di dengar Miss Piggy sebagai suara yang lupa-lupa ingat.
“Siapa ya?” pikiran itu akhirnya disuarakan juga oleh Miss Piggy.
“Ariel,” kata laki-laki keren itu sambil mengulurkan tangan.
“Piggy.Oh, ya, teman SMP dulu ya?” kata Miss Piggy dengan sumringah.
“Hah,..!” Mr Ariel tampak bengong sesaat. “Bukanlah! Itu tuh,” tunjuk Mr Ariel menunjuk spanduk besar dan lebar yang terpampang.
“Oh, Anda yang mengecat gambar tersebut. Selamat karya Anda begitu indah,” kata Miss Piggy dengan begitu kagumnya.
“Bukan,” kata Mr Ariel menggeleng-geleng  keras, meyakinkan dirinya juga atas ketenarannya selama ini yang seketika sirna ketika menghadapi Miss Piggy.
“O, iya..,” tunjuk Miss Piggy dengan telunjuknya.  
“Tahu?” Mr Ariel akhirnya merasa lega. “Maaf,aku harus pergi.” Akhirnya laki-laki keren itu berlalu.
Miss Piggy hanya bengong sambil berpikir keras, tiba-tiba, “Ariel, oh my God. Itu kamu,” diapun membalikkan badan tapi sayang laki-laki itu telah berlalu.


Jumat, 16 November 2012

Masa remaja, musik, profesi

Profesi Masa Kini



'Nun jauh di sana terdapat profesi yang bakal melejit di  masa yang akan datang..'

Profesi apapun itu akan baik jika memang didasari rasa suka. Besar sekali pengaruh sudut psikologis itu terhadap lejitan karir seseorang. Aku suka, ibu suka, babe suka semua keluarga akan suka. Kadang-kadang uang menjadi soal yang ketiga atau yang keempat, walaupun tak munafik uang merupakan masalah pokok.
Saya tiba-tiba teringat ucapan om saya sekitar lima belas tahunan lalu, ‘Coba kamu les vokal atau musik itu kerjaan masa depan.’ Ternyata benar ucapan om tersayangku itu saat inilah masa-masa dunia musik menjamur dan begitu banyaknya aliran artis di dalamnya. Dan begitu banyaknya kesempatan yang saya dapat jikalau saya benar-benar bisa ‘bersuara’. Kesempatan itu benar-benar di depan mata. Tapi ternyata untuk menyanyikan lagu sederhana ala anak TK– pun saya mikir dan terus saja berpikir apa saya bisa.  
Sebagai bekas remaja saya akhirnya baru tersadar kalau apapun kepandaian itu hisaplah banyak-banyak di masa muda yang singkat itu. Karena itu menjadi bekal di masa ketika kita dituntut untuk mandiri secara psikologis dan secara finansial. Alangkah hebatnya menjadi kaya di usia muda, karena  kaya di usia tua itu hal biasa. Semua orang harus optimis bukan? Katakan ‘iya’ untuk  ‘menjadi.’ Menjadi pintar, menjadi bijak, menjadi jujur, menjadi kuat, menjadi cerdik, menjadi berkembang, dan menjadi kaya.
Secara pribadi kadang-kadang saya takjub pada seseorang yang telah berpikiran beberapa langkah kedepan yang kadang-kadang kenyataan yang mereka katakan itu baru terwujut setelah berpuluh tahun kemudian. Itulah kekuatan ide, kekuatan pemikiran, dan kekuatan tekad bagi yang terpilih untuk masa kini.

Sabtu, 03 November 2012

Teman

Teman...


Teman, aku menyebutmu teman. Teman saat suka menyapa, saat duka menerpa dan saat tanpa rasa. Seolah ada kamu ada maupun kamu tiada pun terasa sama. Karena aku telah terbiasa ada kalian. Tahukah kamu butuh kekuatan jiwa, nyali dan rasa ketika suatu jarak memisahkan. Kehilangan itu pasti ada. Ku cari kau, ku cari kalian di keramaian di tempat kesayangan, di perempatan, di tikungan jalan bahkan sampai di loket-loket keramaian.
Di lompetan dunia bahkan telah kucari kalian. Yang kudapat hanya harumnya mawar, melati, anyelir, kamboja bahkan bau bunga bangkai. Aku tahu tak mudah menggantikan kalian bahkan dengan semuanya yang baru. Di setiap sudut ada kalian, seolah aku bisa membaui kalian, mendengar tawa kalian, gurauan kalian yang terkadang liar bahkan lolongan anjing lapar pun tak mudah menghapus kalian. Ku tahu semuanya datang dan pergi.  Ada masanya kalian berjaya dengan menaramu yang menjulang tinggi dan begitu gemerlap seolah kamulah aktor terkenal itu, semua orang mengenalmu, menyapamu bahkan mungkin malaikatpun akan mencatat kegemilanganmu. Aku pun mendengar kalian juga terjungkal bahkan dipermasalahkan setan-setan kecil karena kau telah mengkhianati mereka. Bahkan setanpun menjauhimu. Aku bertanya apa yang kau lakukan? Tapi sudahlah itu memang kamu,  kau yang mendaki kaupun bisa suatu saat terhempas. Itu teori dunia.
Kata dunia, hidup ini sebuah siklus juga merupakan garis linear yang semakin tinggi. Kau hanya bisa naik, turun, menanjak bahkan sekaligus bisa naik maupun suatu saat turun. Dan jangan lupa yang seolah selamanya tak pernah naik-naikpun suatu saat bisa naik dan bisa melesat tinggi.
Ada saat ingin melepaskan kalian karena kau telah mengecewakanku. Akupun merasa terhina dan terpuruk. Maka aku akan mengambili kalian bagai telur kutu satu demi satu di setiap helaian rambut dan membanting kalian sampai binasa. Tapi akupun bukan gorila yang tanpa rasa, memoriku kepada kalian tentang kebaikan,  kebersamaan, kearifan kalian dan kesadaranku tentang alkimia tentang kebaikan dan keburukan kadang menyapa di sela kebencian. Daftar-daftar panjang yang panjang itu memang tak sia-sia, itulah yang mengajariku tentang kata maaf.

Preman kecil

Cerita Seorang Preman Kecil


Dia bernama Emon, anak tetangga jauh. Dia masih kecil tapi kelihatan berotot, dia muda tapi sudah taktis dan mengedepankan keberanian dan otoritas. Menurutku dia calon preman, dia memiliki bibit yang subur untuk tumbuh menjulang sebagai preman. Preman yang disegani, menurutku. Ibuku pun menyetujui pendapatku.
Hal ini bukannya tanpa bukti. Dulu dia pernah menimpuk seorang gadis kecil teman bermainnya sampai gadis tersebut mengalah dan menenangkan hatinya. Layaknya sahabat dia ‘mendinginkan’ si Emon yang sudah memanas. Cocok sekali mereka sebagai pasangan cinta masa depan, sepasang suami istri beda kutub ‘panas’ dan ‘dingin’. Mereka pun akhirnya bermain kembali.
Di hari yang lain Emon pun bentrok dengan seorang temannya yang jauh lebih besar darinya tapi sayangnya si Emon kalah terlebih-lebih dia didorong oleh teman se-gank lawannya hingga dia terjungkal. Dia menangis meraung-raung karena harga dirinya  jatuh ke tanah sebagai simbol kerendahan. Hingga begitu terlukanya dia, hingga dia tetap saja mencium tanah dan menangis melolong-lolong. Kemudian kakaknya akhirnya mengangkat dia masih dalam posisi tengkurap dan tetap saja menangis.
Beberapa jam kemudian sudah kulihat dia enerjik dan memanjat pohon kersen. Dan tak lama kemudian dia sudah membuat ulah dengan menaiki seorang gadis kecil teman mainnya laksana koboi payah. Dasar preman kecil!