Aku Yang Enam Belas
Tahun (2)
![]() |
| Tentu saja aku pas dengan usiaku. Bagaimana denganmu? (Sumber gambar: Google) |
Usiaku enam belas tahun
lebih sepuluh hari saat ini. Rasa-rasanya
sekarang hidupku biasa-biasa saja. Aku tetap saja masih sekolah bukan lantas
bebas merdeka, masih saja tetap diberi uang saku Mama, begitu juga Mama cantikku
masih juga tak hentinya mencereweti aku soal teman-temanku yang katanya tak
sopan, terlalu berani, kegatelan yang katanya beda sekali dengan jaman Mama
dulu. “Iya, lah” kataku dengan suara meninggi ke Mama. “Ini jamannya pemanasan global,
Ma, generasi Mama sudah pada meleleh,” kataku sambil melempar baju seragamku ke
keranjang. Mama terlihat geram, “Eh, Nambel, lihat dirimu anak kecebong yang
belum juga berenang tegak masih juga kelelep.
Kesilep. Tenggelam.”
“Ma, masak Mama ngatain Nambel tenggelam. Bagaimana
kalau serupa ikan cucut saja atau ikan pari saja yang sekalian bisa terbang,”
teriakku sambil lari menghindar timpukan sapu.
Ah, hal seperti ini sih biasa, ku anggap saja seperti makan
nasi. Setiap hari mau tak mau harus dihadapi. Sebal juga. Reseh juga. Belum lagi ceramah Mama soalnya aku harus makan sayur
dan buah. “Supaya cantik kulitnya.” Lalu berhari-hari kuamat-amati wajahku di
cermin apakah ada yang berubah dengan kulitku ketika aku makan buah maupun
ketika aku tak makan buah. Tak ada bedanya, entah makan buah maupun tak makan
buah tetap saja cantik kulitku. “Ma!” teriakku. Mama kemudian berucap “Ya, soalnya kamu muda, sedang
muda-mudanya. Tapi kalau tak dirawat sekarang tar Nambel cepat keriput. Mau?”
Aku ingin geleng-geleng kepala membenarkannya. Kok dia tahu ya, pikirku tak
habis pikir. Belum bertanya, kok sudah serba tahu. Ajaib.
Setiap pulang sekolah, aku selalu
bertemu dengan seseorang yang kini selalu menemaniku. Dia selalu saja ada dengan
tak perlu diundang bahkan tak perlu diantar dengan sebuah lambaian pun dia
selalu ada. Di depan mataku. Tidakkah ini hebat? Tapi dia bukan jalangkung. Aku
pun berharap hujan, agar bisa menahannya lebih lama lagi. Semuanya seperti
mimpi. Aku pun mulai bersenandung. “Kok lagumu tua sekali, jaman emak-emak,”
kata dia menimpali ingin tahu. “Ingin tahu atau ingin tahu banget?” kataku. “Itu lagu yang
diputar berkali-kali di koleksi musik favorit Mama. Tahu ya?” Lalu kita tertawa
terkekeh-kekeh. Sama kita.
Mengerti bukan sekarang apa yang menjadi perbedaanku beberapa bulan yang lalu
dengan kini. Aku kini memiliki seeorang. Memiliki hatiku. Jiwa kita telah
menyatu. Kita sehati. Hidupku, menjadi berarti walaupun aku masih diberi uang saku Mama, masih dicereweti Mama,
masih juga harus sekolah, masih sibuk, kadang juga masih ditimpuk Mama. Tapi aku
menyukainya. Dia seseorang di hidupku saat ini.
