Minggu, 06 September 2015

Aku Yang Enam Belas Tahun (2)



Aku Yang Enam Belas Tahun (2)

Tentu saja aku pas dengan usiaku. Bagaimana denganmu? (Sumber gambar: Google)
Usiaku enam belas tahun lebih sepuluh  hari saat ini. Rasa-rasanya sekarang hidupku biasa-biasa saja. Aku tetap saja masih sekolah bukan lantas bebas merdeka, masih saja tetap diberi uang saku Mama, begitu juga Mama cantikku masih juga tak hentinya mencereweti aku soal teman-temanku yang katanya tak sopan, terlalu berani, kegatelan yang katanya beda sekali dengan jaman Mama dulu. “Iya, lah” kataku dengan suara meninggi ke Mama. “Ini jamannya pemanasan global, Ma, generasi Mama sudah pada meleleh,” kataku sambil melempar baju seragamku ke keranjang. Mama terlihat geram, “Eh, Nambel, lihat dirimu anak kecebong yang belum juga berenang tegak masih juga kelelep. Kesilep. Tenggelam.”
“Ma, masak Mama ngatain Nambel tenggelam. Bagaimana kalau serupa ikan cucut saja atau ikan pari saja yang sekalian bisa terbang,” teriakku sambil lari menghindar timpukan sapu.

Ah, hal seperti ini sih biasa, ku anggap saja seperti makan nasi. Setiap hari mau tak mau harus dihadapi. Sebal juga. Reseh juga. Belum lagi ceramah Mama soalnya aku harus makan sayur dan buah. “Supaya cantik kulitnya.” Lalu berhari-hari kuamat-amati wajahku di cermin apakah ada yang berubah dengan kulitku ketika aku makan buah maupun ketika aku tak makan buah. Tak ada bedanya, entah makan buah maupun tak makan buah tetap saja cantik kulitku. “Ma!” teriakku.  Mama kemudian berucap “Ya, soalnya kamu muda, sedang muda-mudanya. Tapi kalau tak dirawat sekarang tar Nambel cepat keriput. Mau?” Aku ingin geleng-geleng kepala membenarkannya. Kok dia tahu ya, pikirku tak habis pikir. Belum bertanya, kok sudah serba tahu. Ajaib.

Setiap pulang sekolah, aku selalu bertemu dengan seseorang yang kini selalu menemaniku. Dia selalu saja ada dengan tak perlu diundang bahkan tak perlu diantar dengan sebuah lambaian pun dia selalu ada. Di depan mataku. Tidakkah ini hebat? Tapi dia bukan jalangkung. Aku pun berharap hujan, agar bisa menahannya lebih lama lagi. Semuanya seperti mimpi. Aku pun mulai bersenandung. “Kok lagumu tua sekali, jaman emak-emak,” kata dia menimpali ingin tahu. “Ingin tahu atau ingin tahu banget?” kataku. “Itu lagu yang diputar berkali-kali di koleksi musik favorit Mama. Tahu ya?” Lalu kita tertawa terkekeh-kekeh. Sama kita.

Mengerti bukan sekarang apa yang menjadi perbedaanku beberapa bulan yang lalu dengan kini. Aku kini memiliki seeorang. Memiliki hatiku. Jiwa kita telah menyatu. Kita sehati. Hidupku, menjadi berarti walaupun aku masih  diberi uang saku Mama, masih dicereweti Mama, masih juga harus sekolah, masih sibuk,  kadang juga masih ditimpuk Mama. Tapi aku menyukainya. Dia seseorang di hidupku saat ini.