Jumat, 13 Desember 2013

Bercermin Pada Yang Bergerak



Bercermin Pada Yang Bergerak


Negara berkembang keadaan masih serba terbatas. Bahkan untuk menyamankan nama,  nama panggilannya dirubah agar lebih terdengar tidak menyakitkan. Tapi setelah dilihat-lihat dan dirasa-rasa memang serba terbelakang. Bahkan seolah tak bergerak. Yang menjadi standar adalah cermin masa lampau negara maju. Semua serba tertinggal. Memang benar pendapat para tokoh kalau negara-negara mengikuti langkah-langkah atau tahapan tertentu yang memang harus dilalui. Bahkan dalam pemikiran warganya sekalipun.



Tak kala melihat negara maju sudah melihat sesuatu disesuaikan dengan keadaan jaman saat ini, negara miskin masih saja berkutat dengan dengan cermin masa lalu dari negara-negara maju yang sudah ditinggalkan mereka. Takkala dikatakan dunia butuh didinginkan karena semakin panas warga negara-negara maju sudah mulai mendinginkan dengan tehnologi yang serba hijau sedangkan negara miskin semakin getol ‘memanaskan’ lingkungan. Kegiatan tersebut dijadikan standar hidup untuk bisa dianggap dan akses untuk dianggap di lingkungannya.



Memang sesuatu itu untuk dilalui dan otomatis untuk dirasa. Katakanlah pernah merasa kaya, merasa memiliki semua itu terasa lebih memuaskan dalam hidup. Dan saya kira unsur bosan juga menghinggapi warga maju tersebut. Akhirnya kembali ke kehidupan yang sederhana dan serba hijau. Sedangkan negara miskin seolah terpesona dengan kehidupan ‘wah’ mereka yang mereka lihat dalam cermin.



Semuanya memang kembali ke pribadi masing-masing. Jadilah seperti apa yang kalian pilih! Asal bertanggung jawab jangan mengambil kenyamanan kehidupan yang lain, menghormati orang lain, tidak memiliki pola pikir yang serba apatis dan mudah menyerah. Jangan suka menyebar urusan pribadi orang lain yang bukan urusanmu. Itu hanya sikap orang kurang kerjaan. 

Jumat, 29 November 2013

Kebiasaan Makan 'Si Manis'



Kebiasaan Makan Si Manis

Si Manis yang tetap saja manis walau tak manis. Bagaimana menurut Anda?

‘Ayo manis, habiskan. Ayo habiskan,’ maka dengan langkah serta merta bahkan kadang malas dia akan mendekati piringnya kembali dan makan  walaupun itu sedikit.”

Sudah lama sekali saya tidak membicarakan tentang Si manis. Si Manis masih sama tetap seperti semula dan tak juga menjadi kucing pintar. Tapi di mataku dia tetap saja manis. Maka dia diberi nama si Manis. Anda tentu belum pernah lihat betapa laparnya dia kalau sudah menggaruk-garuk kaki atau menyenggol-yenggol anggota badan dengan mengeong-ngeong tak beraturan. Tak beraturan maksudnya tak berirama seperti kucing yang slow down.

Pada hal si pemilik kucing itu inginnya kucing tetap manis entah bagaimanapun rasa perut binatang tersebut. Kalau sudah seperti itu biasanya akan saya katakana ‘Nanti kucing, kosik sing sabar yo!” Dia hanya melihat dengan mata besar bulatnya dan tetap saja mengeong-ngeong. Kalau dia tetap saja meraung-raung eongannya maka ditepuk-tepuk kepalanya supaya agak bersabar. Dia akan menguntit kemanapun si pemiliknya pergi dengan ekor ke atas bak antena yang tegang.

Dia akan  dengan lahap makan makanan yang diberikan. Porsi dia kecil, ya ala kadarnya porsi kucing. Kalau dia sudah selesai makan, maka dia akan meninggalkan piringnya tersebut tapi biasanya lalu saya katakan ‘Ayo manis, habiskan. Ayo habiskan,’ maka dengan langkah serta merta bahkan kadang malas dia akan mendekati piringnya kembali dan makan  walaupun itu sedikit. Dia hanya mau makan kalau ditunggui dengan suruhan tersebut. Itulah kebiasaan kecil si manis kalau sedang makan.

Minggu, 17 November 2013

Pemantik Api



Pemantik Api

Api lain penghias dunia (Sumber gambar : Google)
Korek, korek. Alat untuk membuat api. Yang menjadi sebuah sebab dari kebakaran, api unggun bahkan acara panggang memanggang makanan. Sebenarnya apapun itu pasti berguna hanya tergantung kebijaksanaan si pemakai. Seperti jika terjadi seseorang kesurupan  pastilah karena ada sebabnya. Misalnya si empunya rumah memakai hal-hal yang tak ternalar untuk dipakai dan dicoba. Mungkin pada awalnya itu dianggap sebagai permainan belaka. Siapa yang menyangka bisa demikian fantastis keburukannya.

Api memang sahabat manusia, apa jadinya manusia tanpa api. Dalam cerita-cerita api dipakai sebagai elemen panas dan penghapusnya adalah elemen air. Begitu hebatnya perkembangan api hingga konon bisa dibawa ke mana-mana bahkan ke luar angkasa. Penonton bisa jadi bersorak dan serta merta menjadi fans dari api dan tak menyadari asal muasal api.

Itulah nukilan dari sebuah api yang sampai kapanpun tetap akan menjadi primadona. Bintang di pesta-pesta kehidupan manusia. Bahkan menjadi pengusir dingin dan menjadi sebuah cerita yang menyayat hati dicerita anak penghias tidur mereka. Tentang seorang anak penjual korek api dimana dia berjualan hingga  kedinginannya sampai habis terpakailah korek tersebut. Cerita yang mengharukan. Cerita yang masih bisa dikenang hingga kini.




Kamis, 31 Oktober 2013

Kepercayaan Bukan Untuk Dilanggar



KEPERCAYAAN BUKAN UNTUK DILANGGAR


Norak amat loe kalau ngomong (Sumber gambar : Google)

Rasa-rasanya statement ini so clise. Terlalu datar dan terlalu biasa. Bahkan untuk saat ini terdengar terasa menggurui. Tapi bagi orang yang merasa teraniaya dengan pernyataan itu rasanya so heavy. Bahkan ketika dipertemukan dengan uang yang lumayan menggiurkan pun rasanya tak berasa.

Ketika seseorang diberikan tanggung jawab tentu pada dasarnya orang akan berusaha melaksanakannya. Namun masalahnya dia akan berusaha melaksanakannya atau mungkin sambil lalu saja. Tapi katakanlah kita berpikir semua orang akan melaksanakannya, anggaplah karena orang tersebut memiliki perasaan, nalar, pengetahuan, moralitas, agama, dan berbagai hal pendukung lainnya.  Tapi katakanlah apa yang dilakukan demi tanggung jawab itu sudah maksimal, bahkan sudah lakukan yang terbaik. Namun hal tersebut  seolah-olah ternoda karena orang lain seolah-olah menyepelekan bahkan tak menganggap apa yang telah dia lakukan. Rasa-rasanya itu benar-benar menghina kemampuan orang tersebut. 

Kehidupan ala pengiun di lautan es yang dingin mencekam (Sumber gambar : Google)

Si korban tersebut tentu akan bertanya-tanya apa ‘dia harus berpikir dia itu tidak berguna’ atau bahkan mungkin berpikir dramatis ‘orang yang menghina dia tidak bermoral atau mungkin dia sendiri pelaku pelanggaran tanggung jawab’. Katakanlah kita  berpikir jika apa yang yang dilakukan korban hasil kerjanya sudah bagus. Tapi cobalah si pemberi tanggung jawab itu seharusnya berpikir dulu sebelum berucap hal yang tak mengenakkan tersebut. Soalnya tanggung jawab itu ada batasnya bukannya tak terbatas. Karena setiap manusia itu punya kehidupan sendiri tak profesional rasanya jika hidupnya pribadi seseorang menjadi ikut serta carut marut dibuatnya. Hanya karena penilaian yang tak profesional bahkan bisa berbau subjektif.

Memang manusia siapapun itu memiliki beban bahkan mungkin beban seseorang itu rasa-rasanya tak tertahankan. Tapi ingatlah tidak hanya dia sendiri di dunia ini yang memiliki beban bahkan anak kecil yang baru tahu kalau ibu-bapaknya ribut teruspun memiliki beban. Tak ada seorang pun di dunia ini yang tak memiliki beban.

Jadi bijaklah! Orang itu semakin tinggi semakin tinggi juga harapan orang atas  tuntutan kebijaksanaan  untuknya, semakin berharaplah orang untuk ‘toleransinya’, bahkan kalau dia mumpuni orang akan bersedia berbagi beban dengannya. Akan banyak doa yang teriring untuknya kalau dia tepat dalam bertindak. Jadi bijaklah!
Untungnya kebaikan masih ada. Aku percaya itu (sumber gambar : Google)

Sabtu, 12 Oktober 2013

Mengoreksi hidup



Metani Kehidupan

Secangkir 'bye-bye kopi' di suatu sore (Sumber gambar : Google)

Our prime purpose in this life to help others. And if you can’t help them, at least don’t hurt them (Dalai Lama)

Orang bilang berolahragalah supaya sehat. Orang juga pernah berkata kamu itu buruk rupa buruk pula perilakumu ck, ck, ck. Orang juga pernah membuang muka ketika kita sapa. Terkadang ada sapaan ramah, mungkin suatu saat berbalik arah. Begitu banyak peristiwa. Manakah yang kalian ingat dari perilaku orang tersebut kepada kita?  Maka mungkin ada ingatan yang langsung tertuju ke suatu peristiwa. Sialan, umpatnya.

Baiklah. Semuanya memang sesuatu yang biasa, sesuatu yang tak mungkin tidak dilalui seseorang. Konsekuensi dari seseorang yang diberi kehidupan, hidup di suatu komunitas, bergumul dengan orang-orang lain yang tak mungkin difilter ucapannya, maupun sikap-sikap orang yang secara ‘alami’ memang perilakunya buruk.

Tapi tak semua yang buruk itu memburukkan hidup seseorang. Justru orang semakin terasah agar bisa hidup lebih terarah tanpa harus bersikap buruk ke orang lain. Dia sudah berempati karena disikapi buruk itu sesuatu yang tidak menyenangkan. Alangkah beruntungnya bertemu dengan orang-orang tersebut. Tapi yang pasti orang akan semakin terasah dengan masalah yang secara sengaja maupun tidak sengaja mereka hadapi. Semakin tinggi pohon semakin berangin. Katanya.