Jumat, 18 April 2014

Pemberhentian Hidup



Pemberhentian Hidup

"Seandainya, ah seandainya. Jika saja ah jika saja" (sumber gambar: Google)

Kala sang surya tenggelam, itulah akhir sementara dari siang yang kelak hari berikutnya akan mulai dan berujung kembali.Selalu saja sama. Dan itu terjadi di daerah tropis. Antara waktu siang dan malam hampir sama. Begitu setiap hari dan selama hidup. Seandainya matahari ditanya ‘Bosankah Anda setiap hari kelihatan?’ Tentu dia mungkin saja bosan karena hal itu seakan rutinitasnya dan tugasnya memang seperti itu. Tapi jika sang matahari kelihatan rutinitasnya dia tentu akan merasakan kehampaan yang luar biasa dari sesuatu yang seakan itu telah menjadi ‘ritualnya’. Bagaimana tidak suatu kebiasaan akan hilang dan hal tersebut telah mendarah daging untuknya.

Mungkin itulah yang disebut dengan kebanggaan. Kebanggaan matahari, bulan, bintang, pepohonan, api, tanah, udara bahkan semua makhluk karena menjalankan fungsinya masing-masing. Seolah-olah semuanya bersinergi  membentuk kesatuan. Masing-masing berfungsi, tak ada yang tidak. Dan hal yang mereka lakukan itu seakan-akan menjadi kebanggaannya masing-masing. Coba bayangkan bagaimana jika sebuah kebanggaan menjadi hilang, maka tentunya akan banyak keluhan mulai dari capek hati, gundah, tak enak badan bahkan timbulnya penyakit-penyakit tertentu. Karena kebiasaanya tercerabut dan si empunya atau si pelaku merasakan kehilangan itu. Walaupun mungkin tidak serta merta  dirasakan.

Maka dari itu, cintailah aktivitas kita, mungkin sebuah aktivitas yang sederhana, tak dilihat orang bahkan tak di-reken (dicatat) orang sebagai sebuah kegiatan tapi justru disitulah letak vitalnya. Tapi tentu saja kebiasaan yang baik. Banyak hal yang akan terlewati jika meninggalkannya. Anda pernah mendengar orang-orang yang pensiun? Berapa banyak dari mereka yang akhirnya ‘tidak sehat’ karena kehilangan aktivitas kebanggaaan. Tapi saya pun mengerti begitu bosannya sebuah kebiasaan, ingin rasanya menggunting  dan diputus saja. Tapi hidup masih terus saja berjalan entah Anda itu bosan ataupun tidak. Anda akan tahu betapa hebatnya sebuah kebiasaan jika itu hilang  dan  sirna.  Karena setiap orang pastilah kelak mengalami pemberhentian hidup entah dia mau ataupun tidak.

Minggu, 06 April 2014

Apakah Orang Akan kembali ke Jaman Irrasional?



Akankah Orang Akan Kembali Ke Jaman Irrasional?


Mistis dan klenik digunakan dalam keseharian bahkan ketika dia mengaku beragama tertentu, menggunakan merk rokok impor negara besar (padahal negara itu penduduknya sudah tidak merokok lagi), menggunakan adibusana merk ternama yang klasik, bahkan mencoba makanan dari siap saji ternama sampai restoran bintang lima. Tak ada hal yang belum dicoba. Hal yang ribet dan tak modern justru menjadi kesehariannya.

Namun adakalanya klenik tersebut dipakai saat kejadian seolah-olah telah diujung tanduk dan tanda bahaya. Hal-hal tradisional tersebut akhirnya kembali digunakan untuk membantu mengatasi kesulitan dan kegentingan. Mungkin ada yang merasa biasa namun ada juga yang merasa tak biasa karena merasa ini tidak benar.

Namun di sisi yang lain orang-orang tertentu menjalani hidupnya begitu flow like the water, begitu alami sekali. Entah senang, flat, bahkan ketika diujung tanduk mereka tetap saja memegang teguh keyakinannya hanya kepada Tuhan mereka meminta tolong dan perlindungan.

Apapun itu keadaannya semua kembali ke keyakinan masing-masing. Bukankah setiap orang memiliki kebenaran akan masing-masing yang digenggamnya?

Selalu pohon yang paling benar karena dia melihat semuanya (sumber gambar : google)