Selasa, 21 April 2015

Coba Pikirkan



Coba Pikirkan!

"Aku gak mau jadi manusia," gumam si Peri (Sumber gambar : Google)

Tempatkan diri Anda di tempatnya. Di tempat manusia yang terhormat bukan di tempat manusia-manusiaan. Hidup ini sebenarnya memang sama sekali bukan kehendak Anda-anda sendiri untuk ada di dunia. Bukankah seandainya di tawari kehidupan di dunia mungkin tak ada yang mau menerimanya lebih baik hidup tanpa resiko dan tenang. Bahagia selamanya tanpa masalah tidak harus hidup, bernafas, berjalan, bahkan banting tulang agar tetap bisa eksis dianggap manusia. Tapi ternyata Anda-anda ini terpilih. Hidup dan tinggal di dunia.

Bukankah ini mengejutkan? Seharusnya.

Manusia akhirnya terlahir dalam keadaan 'sama'. Tapi sedihnya seiring berjalannya waktu manusia harus bertemu pada hal-hal yang tak mengenakkan seperti air mata, timpukan batu, bahkan kejatuhan barang dari atas. Inilah hal-hal yang ditakutkan manusia itu dulu. Akhirnya menjadi kenyataan. Lebih sedihlah alam bawah sadar manusia ini. Seandainya selalu bahagia, tak ada nelangsa, pikir alam bawah sadarnya. Apa yang kira-kira akan terjadi ya? Gembira, gembira dan gembira. Bahagia dan selalu bahagia tentunya. Hidup yang menyenangkan sekali. Tiada tara.

Tapi ternyata manusia itu diberi dua sisi bentuk. Hal yang seolah-olah hitam dan putih. Baik dan buruk. Terkadang keadaanlah yang membuat manusia memiliki sisi abu-abu. Baik dan juga buruk. Buruk dan juga baik.

Akhirnya, sisi abu-abu, hitam, putih ini entah disengaja ataupun tidak disengaja melukai manusia lain. Perilaku tertentu,  yang menurut sisi dia dianggap hal biasa namun untuk pihak lain dianggap itu melukai dan menghinakan. Terlebih-lebih lagi dogma ini, dogma itu ikut-ikutan nimbrung. Tapi setiap manusia normal memiliki sisi manusiawi dan prinsip-prinsip kebenaran.  Dan cara tertepat untuk memilikinya yaitu dengan tetap menjadi manusia. Bukan menjadi manusia-manusiaan. Manusis yang diciptakan dengan moralitas yang tinggi. Seandainya kemanusiaannya berkali-kali terkikis kembalikan lagi. Begitu seterusnya.