Minggu, 05 Mei 2019

Sebuah Cerita


Sebuah Cerita Yang Tidak Penting

“Pada dasarnya manusia itu memang sendiri.” –anonim

Memang manusia itu secara fisik dan sosial memang hidup bersama dengan orang lain. Tapi itulah kenyataannya. Mungkin hanya anak mama ataupun anak papa (anak ayah-ibu) yang tidak merasakan ini. Mereka selalu dilindungi dan dibuat nyaman, menjadi kesayangan selama-lamanya orang tuanya. Itu sebenarnya impian semua anak di dunia ini. Mereka selalu terlimpahkan semuanya bahkan tidak merasa menderita. Mereka merasakan hidup itu memang hidup. Memang sayangnya, akhirnya tak punya daya juang. Tapi yang saya lihat mereka tetap saja hidup. Luar biasa. Saya tak bermaksud melecehkan,  ataupun menghina karena itu nyata.

Beda lagi dengan anak yang memang bukan seperti mereka. Masih hidup saja sudah bersyukur, bahkan sujud lima kali, karena bersyukurnya. Punya permen sekotak saja, hanya dimakan sebutir bahkan diparuh. Itu pun memakannya hanya saat ingin. Lumayan, awet sampai berbulan-bulan. Karena memang mereka dibiasakan berpikir. Berpikir untuk setiap tindakannya. Bahkan untuk tindakan memakan permen sekalipun. Akhirnya orang yang tidak biasa berpikir, menganggap sebagai orang pelit, orang kere. Tapi memang sebenarnya miskin juga, karena tidak bisa membeli ini itu. Coba kalau punya uang banyak pasti tidak akan se-pelit itu. Benar juga ya.

Ya, begitulah. Hidup ini memang keras. Patuk mematuk itu hal biasa. Dipatuk memang sakit. Biar saja mereka mematuk. Biarkan saja. Itu cara orang masing-masing. Berjalan, berlari seperti maraton bahkan parahnya finish-nya tidak terlihat juga, lalu berjalan, berjalan juga panasnya setengah mati hampir haus tapi juga tidak mati-mati juga, bahkan terpental karena sambaran angin tapi juga tidak terbang juga.  Inginnya seperti punya sayap hingga seperti superman atau batman, pasti hebat. Parah jadinya, bajunya jadi kotor.  Air juga tidak ada.  Ternyata, ada air sedikit mau untuk nyuci, minum atau untuk cebok ya. Aduh, benar-benar melelahkan. Hidup itu ternyata capek. Dan sendiri. Bahkan seandainya hidup dalam segerombolan orang sekalipun.

Karena manusia secara alami punya privacy. Atau suatu ruang hanya dengan dirinya sendiri. Mungkin suatu perasaan pilu hanya dengan dirinya sendiri. Ada saat ketika suatu saat, akhirnya manusia menyerah juga. Maka pisahlah dia dengan raganya. Seandainya akhirnya di pembaringan terakhirnya hanya ditandai dengan dua potong batu pun, orang lain yang masih hidup yang melihat. Seandainya ada orang yang nelangsa bahkan menggerus hati dengan tempat makam itu, bahkan cerita-cerita dengan orang di dalamnya, itu mungkin kenangan orang yang masih hidup.

Ya, itulah cerita tentang manusia. Mungkin tidak penting untukmu tapi penting untuk orang lain. Bahkan mungkin tidak penting untuk siapapun.

(Sumber gambar I : Google)
(Sumber gambar II : Google)