Sebuah Cerita Yang Tidak Penting
“Pada dasarnya manusia itu memang
sendiri.” –anonim
Memang manusia itu secara fisik
dan sosial memang hidup bersama dengan orang lain. Tapi itulah kenyataannya.
Mungkin hanya anak mama ataupun anak papa (anak ayah-ibu) yang tidak merasakan
ini. Mereka selalu dilindungi dan dibuat nyaman, menjadi kesayangan
selama-lamanya orang tuanya. Itu sebenarnya impian semua anak di dunia ini.
Mereka selalu terlimpahkan semuanya bahkan tidak merasa menderita. Mereka
merasakan hidup itu memang hidup. Memang sayangnya, akhirnya tak punya daya
juang. Tapi yang saya lihat mereka tetap saja hidup. Luar biasa. Saya tak
bermaksud melecehkan, ataupun menghina karena itu nyata.
Beda lagi dengan anak yang memang
bukan seperti mereka. Masih hidup saja sudah bersyukur, bahkan sujud lima kali,
karena bersyukurnya. Punya permen sekotak saja, hanya dimakan sebutir bahkan
diparuh. Itu pun memakannya hanya saat ingin. Lumayan, awet sampai berbulan-bulan.
Karena memang mereka dibiasakan berpikir. Berpikir untuk setiap tindakannya.
Bahkan untuk tindakan memakan permen sekalipun. Akhirnya orang yang tidak biasa
berpikir, menganggap sebagai orang pelit, orang kere. Tapi memang sebenarnya miskin juga, karena tidak bisa membeli
ini itu. Coba kalau punya uang banyak pasti tidak akan se-pelit itu. Benar juga
ya.
Ya, begitulah. Hidup ini memang
keras. Patuk mematuk itu hal biasa. Dipatuk memang sakit. Biar saja mereka
mematuk. Biarkan saja. Itu cara orang masing-masing. Berjalan, berlari seperti
maraton bahkan parahnya finish-nya tidak
terlihat juga, lalu berjalan, berjalan juga panasnya setengah mati hampir haus
tapi juga tidak mati-mati juga, bahkan terpental karena sambaran angin tapi
juga tidak terbang juga. Inginnya
seperti punya sayap hingga seperti superman
atau batman, pasti hebat. Parah
jadinya, bajunya jadi kotor. Air juga
tidak ada. Ternyata, ada air sedikit mau
untuk nyuci, minum atau untuk cebok
ya. Aduh, benar-benar melelahkan. Hidup itu ternyata capek. Dan sendiri. Bahkan
seandainya hidup dalam segerombolan orang sekalipun.
Karena manusia secara alami punya
privacy. Atau suatu ruang hanya
dengan dirinya sendiri. Mungkin suatu perasaan pilu hanya dengan dirinya
sendiri. Ada saat ketika suatu saat, akhirnya manusia menyerah juga. Maka
pisahlah dia dengan raganya. Seandainya akhirnya di pembaringan terakhirnya
hanya ditandai dengan dua potong batu pun, orang lain yang masih hidup yang
melihat. Seandainya ada orang yang nelangsa bahkan menggerus hati dengan tempat
makam itu, bahkan cerita-cerita dengan orang di dalamnya, itu mungkin kenangan orang
yang masih hidup.
Ya, itulah cerita tentang
manusia. Mungkin tidak penting untukmu tapi penting untuk orang lain. Bahkan
mungkin tidak penting untuk siapapun.
![]() |
| (Sumber gambar I : Google) |
![]() |
| (Sumber gambar II : Google) |

