Rabu, 07 Juni 2017

Ketika Semuanya Berbeda



Ketika Semuanya Berbeda

“…ketika semuanya dianggap biasa. Sedih, gembira semuanya seakan tak berbatas lagi. Maka semuanya akan normal adanya…”---mengutip kata-kata seorang teman.

 
Ketika kuda terbang merasa alam semesta ini indah dan berjalur (Sumber gambar: Google)


 
Mungkin seseorang  tak mengerti dulu ketika ada perkataan yang mungkin dianggap abnormal tersebut. Dia anggap bahagia itu ketika semuanya bertepuk tangan, semua orang mendapatkan hadiah indah dan berlimpah riuh  rendah perayaan. Mungkin menurutnya itu versi sempurna dari suatu perjalanan. Karena senyatanya ada saja perayaan itu. Hebatnya ada orang mengalaminya.
 
Ketika putri melihat sisi luar dari istana( Sumber gambar : Google)

Tapi seiring waktu perjalanan walaupun ‘waktu’ tidak bisa dijadikan ukuran lagi, semuanya bertumbuh. Semuanya berubah. Semuanya menjadi seakan kebal. Bahkan kebal oleh panas dan dingin. Mungkin itulah perumpamaan yang tepat untuk itu. Ya, begitulah persepsi akan versi itu kini seakan tercabik-cabik bahkan telah dibentur-benturkan sampai memar dan membiru. Hingga dibutuhkan sebongkah besar es batu untuk melelehkan ruam-ruam itu. 


Akhirnya seseorang itu berpikir perjalanan itu tanpa batas, tanpa rupa dan bentuk. Ketika fisik merasakan dan menjadi saksi atas suatu kejadian maka semua indera menganggap  itulah kehidupan. Pikiran dan perasaanpun mengamini begitulah adanya. Ketika semuanya dianggap biasa. Sedih dan gembira semuanya seakan tak berbatas lagi. Maka semuanya menyetujui itu normal. Semunya memiliki andil bagi yang lain. Sedih memiliki andil untuk gembira. Dan senyuman pun memiliki andil bagi guratan melengkung sebuah pilu. Ketika semuanya tak berbatas.