Ketika Semuanya Berbeda
“…ketika semuanya dianggap biasa. Sedih, gembira semuanya
seakan tak berbatas lagi. Maka semuanya akan normal adanya…”---mengutip
kata-kata seorang teman.
Mungkin seseorang tak mengerti dulu ketika ada perkataan yang
mungkin dianggap abnormal tersebut. Dia anggap bahagia itu ketika semuanya
bertepuk tangan, semua orang mendapatkan hadiah indah dan berlimpah riuh rendah perayaan. Mungkin menurutnya itu versi
sempurna dari suatu perjalanan. Karena senyatanya ada saja perayaan itu. Hebatnya
ada orang mengalaminya.
Tapi seiring waktu perjalanan
walaupun ‘waktu’ tidak bisa dijadikan ukuran lagi, semuanya bertumbuh. Semuanya
berubah. Semuanya menjadi seakan kebal. Bahkan kebal oleh panas dan dingin.
Mungkin itulah perumpamaan yang tepat untuk itu. Ya, begitulah persepsi akan versi
itu kini seakan tercabik-cabik bahkan telah dibentur-benturkan sampai memar dan
membiru. Hingga dibutuhkan sebongkah besar es batu untuk melelehkan ruam-ruam
itu.
Akhirnya seseorang itu berpikir
perjalanan itu tanpa batas, tanpa rupa dan bentuk. Ketika fisik merasakan dan
menjadi saksi atas suatu kejadian maka semua indera menganggap itulah kehidupan. Pikiran dan perasaanpun
mengamini begitulah adanya. Ketika semuanya dianggap biasa. Sedih dan gembira
semuanya seakan tak berbatas lagi. Maka semuanya menyetujui itu normal. Semunya
memiliki andil bagi yang lain. Sedih memiliki andil untuk gembira. Dan senyuman
pun memiliki andil bagi guratan melengkung sebuah pilu. Ketika semuanya tak
berbatas.

