Selasa, 13 November 2018

Hidup Itu Tidak Mudah


Hidup Itu Tidak Mudah

Itulah kenyataannya.  Walaupun tak lantas orang yang mengatakan ini langsung dikatakan apatis.  Karena memang jalinan yang terpilin-pilin dari rumitnya sesuatu hal yang menjalar dan terus menerus itu tidak mudah. Sudah berapa puluh musim yang dilalui. Mungkin di mata beberapa orang musim itu dari waktu ke waktu sama tapi tentu tidak untuk sebagian orang yang lain. Musim hujan itu mungkin untukmu hanya sebatas air turun dari langit lalu kamu membawa jas hujan setiap kali kalau air itu turun. Tentu bermakna lain untuk penjual es batu saat musim hujan tiba bahkan untuk si patah hati akan bermakna lain setiap hujan yang semakin deras itu membasahi bumi dan jatuh ke tanah. Syukurlah hujan turun hanya semusim. Padahal baru membicarakan hujan yang sekelumit saja.

Saya beberapa waktu lalu telah membuat tulisan di blog ini juga Life is Simple, https://nugrahenieriaryani.blogspot.com/2013/04/life-is-simple-hidup-itu-sederhana.html karena secara teoritis memang sebenarnya hidup itu sederhana. Lalui saja, jalani hidup sesuai minat dan kehidupan ini akan membimbing jalanmu. Kamu hanya berusaha dan berdoa. Ya, memang semudah itu. Soal kendala, ting, hanya jentikkan jari. Ya, semudah itu. Bukankah banyak  yang mengalaminya? Janganlah sesuatu hal itu dipersulit.

Tapi tulisan ini memang saya tujukan mungkin untuk yang sependapat kalau hidup ini tidak mudah. Apalagi kalau si pelakunya memperumitnya, ada drama bahkan segala sesuatu itu tidak jatuh padanya dengan mudah. Kenapa ada ‘se-drama’ sekali hidup seperti itu. Ya, protes saja tidak apa-apa ke siapa protes dipersilakan. Itu tidak salah. Itu hakmu, kok. Tapi seandainya berkoar-koar tetap saja menurutmu itu tetap tidak mudah. Itu memang benar. Tidak ada hasil, tidak menarik perhatian orang juga, tidak membuat terkenal, mubazir bahkan capek.

Jadi mungkin lebih tepatnya saran itu : telan saja entah pahit, getir, asam, manis, perih, pilu, ngilu anggaplah sebagai hal biasa. Orang lain saja, mereka tenang-tenang saja mengalami itu semua, tidak sok drama atau menganggap dirinya paling sengsara di dunia. Jika ilmu ekonomi mengajarkan efisien dalam pengeluaran, inilah saatnya efisien dan berhemat dalam pemborosan emosi. Seandainya terkadang boros, tak apalah, itu termaafkan. Karena itulah yang akan memberi warna  pembeda dengan warna dominan dalam hidupmu.

Dan seandainya saat  lorong kehidupan itu seakan tak berujung, berucap saja berterima kasih bahwa kamu telah mencecap kehidupan di dunia ini entah apapun itu warnanya. Karena dengan berada di sini telah mengetahui apa itu gelap terang hal yang baik dan buruk bahkan zona dari keduanya. Tentu jika belajar hal itu dari buku atau media lain butuh waktu panjang dan lama untuk bisa menerka dan menyelaminya. Entahlah, menurut saya  kehidupan itu pasti akan menggerus waktu ke arah depan dan itu pasti akan bergerak maju. Dan secara otomatis hidup itu memang bergerak maju, entah kamu ingin kamu berhenti kamu tetap akan bergerak.



Jumat, 26 Oktober 2018

Rasanya Menyesakkan Dada


Rasanya Menyesakkan Dada...

Rasa hangat itu menyenangkan (Sumber gambar : Google)

Terkadang rasa sesak itu bukan karena dada yang secara riil terasa sesak, tapi bentuknya seperti apa itu hal yang tak terlihat, tak dirasa.

Bukannya ingin merasa lebih, apalagi sok merasa yang paling berpikir keras menanggapi sesuatu hal. Tapi sebetulnya itulah yang menyesakkan dada.

Sedih rasanya..melihat orang seakan tak berdaya, padahal kalau dia mau berusaha sebenarnya dia itu berdaya. Bahkan lebih dari yang menuliskan ini. Saya sebenarnya tak habis pikir asal muasal dari pemikiran hulu apakah memang muasalnya atau memang takdir seseorang itu seperti itu. Sejujurnya, gemas sekali rasanya.  Bahkan seandainya seseorang itu merasa normal-normal hidupnya justru orang-orang lain jadi berpikir keras. Jangan-jangan kita yang tidak normal. Lalu muncul banyak pertanyaan di kepala banyak sekali. Berjuta.  Padahal secara sekilas saja sebetulnya hidup dan pemikiran dia yang tidak normal. Iya-tidak-iya-tidak-iya-tidak.
***
Memang benar lebih baik mana menjadi orang realistis atau orang biasa-biasa saja? Dulu saya pikir  orang-orang yang realistis, dimata saya mereka itu over PD, sok tahu, sarkastik, minimalis (soalnya mereka hanya membawa diri mereka saja tak membawa payung, minum, sunblok, dan barang-barang penting lainnya), bicara satir dan getir rasanya menyedihkan sekali dan langsung hati pilu setiap bicara dengan orang semacam ini. Tapi di sisi lain sebenarnya agak sependapat juga juga sisi pemikiran itu. Bolehlah.  Tapi hati kalut akan semakin kalut setiap bertemu dengan orang semacam ini. Peace.

Tapi bicara dengan orang biasa rasanya lebih melegakan..bagaikan menghirup mint yang terus dan lama. Bahkan sampai menembus kulit rasa mint itu. Dingin dan segar. Terkadang dan biasanya orang biasa benar-benar hanya mengandalkan perasaannya. Voila, hasilnya dengan sarannya kacaulah semuanya. Padahal dalam situasi kacau itu sebenarnya akal sehat dan logika lebih bisa memberikan solusi dibandingkan perasaan yang menurutnya lebih tepat. Padahal tidak. Karena hidup itu adalah realita. Realitanya sendiri-sendiri dan dalam situasi berbeda pun bisa seketika berubah. Tak tertebak.  Bahkan akal sehat pun terkadang masih kalah juga oleh derasnya kehidupan itu. Bagaimana dengan perasaan? Masih harus berjuang untuk bisa duduk. Bahkan ketika akal sehat sudah mulai berlari lagi.

Rasanya sadis sekali, jika memang harus mengatakan seseorang itu  bodoh, lemah, malas, pengecut, tergantung, padahal sebenarnya tak ada secuil pun makhluk di dunia ini yang mau dihinggapi semua sebutan itu. Dan itu seakan-akan akan terus melingkar-lingkar bahkan sampai si empunya terjerat dan tercekik ‘mungkin’ baru tahu untuk apa belajar berjuang dan memperjuangkan sekecil apapun keinginannya sendiri walaupun dengan bagaimanapun rasa dan tenaga yang dia punya. Dan seandainya  si empunya yang terjerat itu menyublim ke udara,  semua orang hanya berucap ‘itulah yang terbaik untukmu’. Bukan dalam kata-kata  penghinaan tapi itulah bentuk empati yang paling dalam.

Minggu, 09 September 2018

Yang Menyedihkan Itu Tiga (3)


Yang Menyedihkan Itu Tiga (3)

Pasar memang riuh, apalagi sekeliling kutu di kepala pun berloncatan karena kepanasan. Sepanas kepalaku saat ini. Memilih keranjang yang pas untuk belanjaanku. Apa ya? pikir saya dengan fasih. Ketika di hadapan saya saat ini berjejer : keranjang dari plastik dan keranjang dari rotan.

Ini bukanlah pengalaman pertama saya membeli keranjang. Tapi kok saya masih gamang juga ya. Apa karena efek rumah kaca yang membakar kepala hingga dehidrasi dan isi kepala ikut menguap juga. Atau karena ..saya terlalu pemikir atau bahkan telat mikir. Ingin rasanya menelpon 008 untuk menanyakan solusi tepat untuk saya ini. 

Dulu..saya pernah membeli keranjang plastik tapi dalam waktu singkat langsung meleleh karena panasnya cuaca kota saya. Dan lelehan itupun melukai dan melepuhkan kulit. Sakiiit sekali rasanya.
Dulu juga, pernah membeli keranjang rotan, aman dan kelihatan beda dengan plastik. Bahkan tumbuh sulur-sulurnya pula. Benar-benar beda.  Ah, tentu ini lebih baik, pikir saya.

Tapi saya kemudian teringat, tujuan saya ke pasar itu untuk mencari keranjang fiber optik. Ya, tahulah anak sekolah jaman sekarang.
“Pak, ada keranjang fiber optik,” tanya saya celingukan mencari-cari.
“Ada, dik. Di surga sana..,” kata Bapak penjual dengan muka sebal.

Tapi sebagai anak sekolah, jawaban itu tak menciutkan hati saya yang memang dari dulu sudah ciut.
Saya terdiam, ingin rasanya hari ini seketika hujan saja, karena itu akan menyelesaikan masalah di mata saya. Tiba-tiba saya terngiang lagi ucapan tetangga dekat rumah saya, dulu saat saya jatuh di tanah becek. “Mau ke mana , Nak?” tanyanya.
“Mau ke kota Baru?”
“Teruskan perjalananmu. Seandainya teman-teman kamu itu sampai di Kota baru bisa mereka tempuh dalam waktu satu jam, tapi seandainya kamu bisa menempuhnya selama setahun bahkan dua tahun tidak apa-apa. Tapi tujuanmu tercapai, bukan?”

Hati saya pun merasakan seketika detak-detak tujuan saya.

Keranjang Impian (Sumber gambar : Google)



Kamis, 01 Maret 2018

Benar-benar Busyet!



Benar-benar Busyet!!!



Malam ini, ini bukanlah tulisan ilmiah, tapi lebih hanya sekedar dugaan yang terlalu subjektif.


Sumber gambar : Google. Trims untuk jagokata.com yang sudah menghias blog saya.
Orang tentu akan cenderung tidak mau harga dirinya terusik. Tapi payahnya mungkin karena ‘azas supaya orang tertentu sama  dengan orang lain’ atau ‘mungkin orang tertentu itu orang yang tidak sekali’ atau ‘mungkin terima saja lah’ atau ‘mau apa lagi kau’ atau ‘ekspresi penghinaan dia’ atau lebih dramatisnya lagi ‘pesanan penghinaan’. Wow benar-benar sesuatu hal yang bisa membuat minta tolong dan membuat orang melolong karena merasa terhina dan terpukul.



Harusnya orang berpikir selayaknya manusia yang utuh akalnya. Sebenarnya ini bisa dijadikan teori mungkin. “Berpikirlah abnormal boleh kalau orang itu setingkat dengan dirimu, tapi berpikirlah normal kalau orang itu tidak setingkat dengan dirimu.’



Hah? Kok tidak setingkat, bukankah seluruh manusia ini sederajat. Ya, …memang sederajat di depan Tuhan. Ah, pikirkan saja sendiri. Pasti kau akan bingung memikirkannya. Kok bisa...???



Orang akhirnya, memang akan berucap. Menyakitkan memang seandainya seseorang bisa membaca semua tingkah dan isi pikiran orang. Pasti mungkin..serasa ingin mati. Orang pun akhirnya menyadari tak ada tempat lagi yang benar-benar menerima kita apa adanya kecuali kesah  kita pada Allah, Tuhan kita. Orang yang mungkin tidak religius pun, ketika suatu saat nanti ketika ada di suatu titik, dan  tidak ada sesuatu, orang, apapun itu yang bisa menolongnya kecuali dirinya sendiri dan Tuhan. Serasa itulah titik kematian, tapi ternyata dia lolos. Saat itulah alur dunia seakan terpusat padanya. Wow, dramatis. Ya, supaya orang akhirnya berpikir. Redamlah amarahmu, tetaplah berpikir tenang, walaupun sebagai manusia masih sering juga bertindak bodoh. Ampunilah kesalahanmu sendiri.