Secara, setelah hari-hari kemarin
akhirnya yang tertinggal mungkin hanyalah suatu hal yang sederhana : lakukan
saja apa yang kau ingin.
Sebenarnya akhirnya tak ada hal
yang menarik lagi, selain kita seolah menepi dan lakukan saja yang terbaik. Tak
hebat tak apa, asal di situlah letak rasa kepuasan dan kebahagiaan.
Ada hal sebenarnya jauh dalam
hati saya membuat terdiam. Bukan karena itu hebat, menakjubkan, fantastis
bahkan booming. Tapi itu sebenarnya
tak perlu ‘perayaan’ ataupun ‘sanjung puji’. Karena itu sudah terlalu biasa di
dunia sebenarnya manis menurut mereka.
Mungkin, mereka yang merayakan
itu tak tahu, sebenarnya keadaan tak semanis pikiran mereka. Jauh lebih
mengerikan, ditekanpun kamu masih harus tetap terseyum seolah tak mengapa,
diragukan kemampuanmu hanya karena tidak perlente
dan tidak glamour, bahkan dijatuhkan
dan dihancurkan oleh keluarga ‘sangat terdekat’ tanpa merasa salah sama sekali.
Ini tentu jarang bahkan tak mereka temui.
Bahkan kau selamanya akan
dihantui oleh mimpi buruk yang tak kau ketahui dari mana. Mungkin inilah bunga
tidur yang serupa anggrek hitam yang mahal itu. Tapi tidak, kalian lebih
beruntung.
Karena itu serupa lelehan gula
manis dari sebuah buah jeruk sunkish tapi sebenarnya itu jeruk nipis. Dan
bahagialah, lelehan gula manis itu memang manis.
Memang menarik menjadi sama
dengan suatu kelompok dari sebuah kelompok besar pertemanan, tentu bahagianya
luar biasa. Saya juga pernah mengalami kelompok pertemanan yang hebat tersebut.
Walaupun tentu berbeda visi misi dengan
kalian. Mereka lebih hebat.
Tanpa disadari seiring waktu,
saya mengerti lebih baik tiada sanjung puji dan indahnya kelompok besar
pertemanan yang luar biasa dan saling dukung, karena itu tidak membuat
merasakan getirnya rasa asli dari kehidupan ini. Karena rasa pahit, getir,
hambar, tanpa rasa itu lebih baik diterima seseorang, agar kelak jika suatu
saat dia menerima sebutir gula batu sebesar biji jeruk dia sudah cukup
merasakan manis. Tak perlu banyak, itu sudah cukup.
Saat ini, secangkir teh pahit
tanpa gula samasekali rasanya terkadang lebih nikmat sembari melihat keluar
melalui jendela kaca yang saya buat buram. Agar itu mengajari saya, hidup ini
tak seindah mimpi putri-pangeran saat kecil dulu.
Tak mengapa, tapi justru saya
bahagia akhirnya diusia yang mungkin belum terlalu tua (saya pikir begitu),
saya mengerti arti kehidupan yang sebenarnya. Tak mengapa orang-orang atau
teman-teman yang lain, masih terus berpikir tentang indahnya cerita
putri-pangeran yang mereka angankan dan impikan hingga saat ini.
Dilema memang bisa menjadi indah
terkadang, tapi lebih nikmat secangkir teh pahit ataupun kopi pahit.
